Mendingan Mana: Bau Badan atau Bau Mulut?



Setelah mendengar pertanyaan di atas, apa yang Anda pikirkan? Atau begini; kalau disuruh memilih satu diantara kedua jenis bau itu, kira-kira mendingan yang mana? Keduanya memang ga ada mendingnya. Baiklah, saya akan persempit lagi pertanyaannya. Apabila di dunia ini kita diwajibkan—mutlak sudah dari sononya—memilih salah satu diantara ke dua jenis bau itu, mana yang akan kita pilih, bau badan atau bau mulut? Tapi, simpan dulu jawabannya. Sekarang kita akan bermain main dengan cerita di bawah.

Setiap kali kita menjumpai ke dua jenis bau itu, saya jamin siapa pun akan merasa terganggu. Begitu juga dengan Anda dan saya. Apalagi di dalam ruangan AC. Memang, jika dibandingkan dengan segala jenis bau yang ada di dunia ini, barangkali ada yang lebih parah lagi selain itu. Tapi celakanya, ke dua jenis bau ini (seringnya) tidak disadari oleh si empunya. Orang lainlah yang merasa lebih terganggu dengan aromanya; orang lainlah yang kudu mati matian menahan bau sialan itu. Bahkan mereka, dalam hatinya sering terjadi pergulatan psikologis yang cukup hebat. Mau dikasih tahu sama orangnya, ga enak! Sementara kalau dibiarkan terus menerus, beban buat kita. Coba bayangkan, di dalam sebuah ruangan (katakanlah di ruangan kantor Anda), ada salah seorang (tapi bukan Anda) yang bau badannya begitu mengganggu. Kira kira apa reaksi Anda?

Sebelum bereaksi lebih jauh, tentu kita mencari dulu di mana bau itu memusat. Lalu setelah ketemu biangnya, mungkin dalam benak kita akan mucul komentar — seperti misalnya, “ohh.. pantesan dia.” Kemeudian selang beberapa detik, tiba-tiba semua orang yang ada di ruangan tersebut tahu, darimana bau itu berasal. Lalu mengendus ngendus, menutup hidung. Kecuali si empunya yang punya bau. Karena dia tidak menyadarinya sama sekali. Dan ketika menemukan dirinya sebagai biang keladi bau tersebut, malunya setengah mati. Tiba tiba PD-nya menurun drastis, lenyap dalam sekejap. Atau barangkali reaksinya biasa-biasa saja. Habis mau gimana lagi!

Bandingkan lagi dengan yang bau mulut. Kejadiannya kita samakan dengan yang di atas, yakni di dalam ruangan kantor ber-AC. Dan salah satu teman anda, bau mulutnya melebihi bau mulut rata-rata kantor. Kalau rata-ratanya 7, dia bisa sampai 9 atau 10. Baunya begitu menyengat ketika ‘bersuara’. Lalu pada sebuah kesempatan orang itu ngobrol dengan Anda. Apa reaksi Anda?

Baiklah, itu ga perlu dijawab. Simpan saja jawabannya dalam hati. sekarang, kita kembali ke pertanyaannya. Sekali lagi, seandainya di dunia ini kita wajib (alias mutlak dari sononya) kudu menyandang (atau memilih) salah satu dari kedua jenis bau itu, kira-kira ‘mending’ yang mana?

Nah, biar fair, saya juga akan menjawab salah satu. Apabila diposisikan pada kondisi itu, di dalam ruangan kantor ber-AC, saya akan memilih yang bau mulut. Alasannya simpel. Kalau bau mulut menyiasatinya gampang. Dengan berdiam diri atau tutup mulut, beres! Tapi kalau bau badan (alias BB), meskipun kita diam, tidak bergerak samasekali, tetep saja baunya kemana-mana. Menyebar ke setiap sudut ruangan, ke segala penjuru arah mata angin. Apa kita ga malu, tertangkap basah mengidap bau yang khas dan menyebalkan itu…? 🙂
***

Jangan khawatir, di sini saya akan berikan penyebab dan penanggulangannya.

Menurut beberapa ahli, bau badan itu disebabkan kerana adanya ketidakseimbangan asam di dalam tubuh. Faktor penyebabnya antara lain:

1. Ketidak seimbangan diet. Yaitu, kekurangan magnesium (zink) atau terlalu banyak mengkonsumsi daging, makanan yang mengandung kolin, bawang putih, kopi, alcohol, dan makanan berlemak.
2. Stres emosional. Artinya, kelenjar Apokrin yang merupakan kelenjar penghasil keringat, sering meningkatkan produksi keringatnya ketika mengalami stres.
3. Perubahan hormon. Ini bisa terjadi pada seseorang ketika memasuki usia remaja. Yakni adanya beberapa perubahan pada gejolak hormon Androgen.

Tapi tenang, ada cara untuk menguranginya, yaitu dengan:

1. Menjaga kebersihan tubuh tentunya merupakan hal yang utama. Mandi misalnya. Ini penting, minimal sekali dua hari (eh salah, maksud saya sehari dua kali :)). Karena itu akan menghilangkan keringat, kotoran, dan cmpuran bakteri yang menimbulkan bau badan. Lalu pastikan seluruh tubuh kita—terutama ketiak dan lipatan-lipatan tubuh lainnya—bersih dari kotoran.
2. Kurangi kelembaban ketiak dengan bedak atau deodoran yang dapat mengurangi bau, menyerap keringat, dan mampu membunuh bakterinya. Di apotik-apotik banyak.
3. Bulu ketiak (atau bulu-bulu yang lain) ternyata tempat favoritnya para bakteri bersemayam. Jadi, mendingan dibotakin deh.

Nah.. itu beberapa penyebab bau badan dan cara menguranginya. Sekarang mari kita bahas sedikit soal bau mulutnya. Ini beberapa penyebabnya:

1. Kondisi genetika. Di butuhkan cara khusus dengan melalui program perawatan gigi yang tepat. Tentunya ke Dokter gigi. Perlu diingat juga, kebiasaan merokok, penyakit Diabetes, gagal Liver, atau pengobatan-pengobatan medis pun bisa menyebabkan mulut tak sedap.
2. Berkembangbiaknya bakteri di bawah lidah. Bagian ini memang sangat rawan, sebab seringkali dilupakan ketika kita menggosok gigi.
3. Gangguan Liver kronis juga katanya tak jarang menjadi biang keladi bau mulut (bahasa kerennya Halitosis). Ini akibat dari metabolisme protein dan lemak yang tidak berjalan sebagaimana mestinya yang disebabkan oleh terganggunya fungsi hati.
4. Dan gangguan fungsi ginjal juga ternyata bisa menyebabkan bau mulut kronis.
5. Lalu penyebab lainnya sekaligus cara pengobatannya bisa di lihat di sini.

Semoga manfaat..
***

Follow me @SatuJoeli

Iklan

2 pemikiran pada “Mendingan Mana: Bau Badan atau Bau Mulut?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s