Bono (U2): Musik Untuk Kesejahteraan Warga Dunia


Bono. Beliau adalah vokalis band rock asal Irlandia — U2. Ia dilahirkan di Dublin (Irlandia) pada tanggal 10 Mei 1960 lampau dari seorang ayah yang menganut Katolik Roma dan Ibu Protestan. Namun demikian, pada sebuah kesempatan beliau pernah berucap: “Saya selalu merasa seolah-olah berada di pagar.”

Julukan nama Bono didapat dari nama sebuah toko yang secara rutin dilewatinya — North Earl Street, tepat di ujung O’Connell Stret, Dublin. Secara harpiah berarti ‘suara bagi si orang baik’.

Kisah tentang bergabungnya Bono dengan U2 bermula ketika Larry Mullen memasang iklan majalah dinding yang di tempel di sebuah sekolah menengah atas di Dublin, Irlandia. Iklan tersebut rupanya berhasil menarik minat 6 sampai 7 orang muda (termasuk Bono). Dari situ terhimpunlah beberapa orang, diantaranya: Deve Evans alias The Edge (gitar), Adam Clayton (Bas), dan Paul Hewson alias Bono (vokal).

Pada mulanya band ini bernama Feedback yang banyak membawakan lagu-lagunya The Beatles. Sekitar 1977, nama band mereka menjadi The Hype. Dan, lantaran grup ini ditinggalkan oleh Dick Evans maka mereka pun merubah namanya lagi menjadi U2, hingga kini.

Dalam lagu-lagu U2, mereka selalu menonjolkan suara gitarnya The Edge, yang menjadi warna tersendiri dalam membalut harmonisasi setiap lagu-lagunya. Warna musik U2 cenderung bergaya post-punk, sesuatu yang ironis karena pada waktu itu musik punk bahkan belum tiba di Irlandia.

Lalu pada tahun 1980 mereka bergabung bersama Island Records yang didirikan oleh Chris Blackwell. Mereka merilis Boy, sebuah album yang dinilai sebagai karya yang pas untuk anak-anak muda pada waktu itu. Identitas U2 mulai tampak jelas ketika mereka merilis album War (1983). Lagu Sunday Bloody Sanday misalnya — yang berbicara soal kekerasan di Irlandia Utara — langsung menjadi cap bahwa U2 adalah band idealis dan politis. Anak-anak muda Irlandia itu memasukan unsur drum ala militer sementara liriknya cenderung melankolis (di lagu itu), yang berbunyi: ‘And the battle jast begun/ There’s many lost but yell me who has won/ The trenches dug within our hearts/ And mothers, children, brorhers, sister torn apart/ How long how long must we sing this song/ And the battle just begun/ To claim the victory Jesus won/ Sunday bloody sunday.’

Pada dasarnya lagu-lagu yang dilahirkan di album War mengungkapkan hasrat U2 untuk mengguncang dunia lewat musik yang menyuguhkan kebaikan sekaligus kejahatan. Lagu-lagu mereka seakan-akan mampu memberikan semangat untuk terus berjuang melawan penindasan dalam konteks kekerasan bersenjata. Lagu Like A Song misalnya, merupakan ungkapan rasa prustasi mereka terhadap ketidakmampuan dalam memcegah pertikaian antar bangsa.

Seiring jalannya waktu, U2 pun semakin membuktikan sepak terjangnya dalam menanggapi masalah-masalah politik internasional. Sebagai bukti, pada 13 Juli 1983 mereka menampilkan konser spektakuler dalam konser Live Aid. Konser ini adalah persembahan dari para musisi dunia untuk membantu korban bencana kelaparan di Ethiopia.

Perjuangan U2 semakin terealisasi ketika Amnesti Internasional mengajak mereka dan sejumlah musisi kondang seperti, Sting dan Pat Benatar untuk menggelar konser bertajuk Conspiracy Of Hope — kegiatan Amnesti Internasional– lewat musik sepanjang tahun 1986.

Memasuki era pasca Perang Dingin, U2 meluncurkan album Achtung Baby (1991) yang dirilis di Berlin, Jerman. Salah satunya lagu One merupakan persembahan mereka bagi perubahan kondisi dunia internasional yang tentunya diharapakan menjadi sebuah bentuk yang lebih aman dan damai. ‘One love, one blood, one life/ You got to do with you/ Should one life/ Hurt each other/ Sisters, brothers.’

Lalu dalam album All That You Can’t Leave Behind, U2 secara khusus mendedikasikan lagu Walk On kepada tokoh pejuang hak asasi dan demokrasi asal Myanmar — Aung San Suu Kyi — yang mengalami penindasan oleh militer sejak tahun 1990. Suu Kyi pun segera memberikan ucapan terima kasih atas dukungan U2 terhadap perujuangannya pembebasan rakyar Myanmar dari tekanan militer.

Melalui musik, Bono kerap memperkuat konser kemanusiaan yang diadakan pemusik tenor andal asal italia, Luciano Pavorotti. Salah satu konser yang terkenalnya adalah konser Sarajevo, yang penjualan konser dan albumnya diperuntukan buat korban konflik di Bosnia (tahun 1992). Di konser itu Bono Berduet dengan Pavarotti dalam lagu Miss Sarajevo dan mempersembahkan lagu One untuk penanganan konplik di balkan. Masih dalam konplik di Balkon, Bono juga bertemu dengan mantan Presiden AS Bill Clinton untuk membahas kebijakan AS terhadap wilayah bekas Yugoslavia. Selain itu, Bono juga kerap bertemu dengan Sekertaris Jenderal PBB Kofi Annan untuk mengungkapkan keprihatinannya terhadap utang negara-negara miskin. Bahkan secara khusus, Annan mengundang Bono menyuarakan pandangannya mengenai kemungkinan penghapusan utang negara-negara miskin.

Pada Desember 2005, majalah Time memilih Bono sebagai salah satu “Tokoh Tahun Ini”, bersama Bill dan Melinda Gates. Dan sebulan berikutnya, tepatnya tanggal 2 Februari 2006 Bono berbicara dengan sangat fasih sebelum Presiden George W Bush pada Do’a Makan Pagi Nasional ke-54 di Hilton Washington Hotel. Pidatonya dipenuhi dengan kutipan dari alkitab, dan beliau mendesak warga dunia memberi perhatian pada kaum tertindas.

Dalam acara itu Bono juga menyampaikan pandangan-pandangan kekristenannya yang diharmonisasikan dengan agama-agama lain, karena dia mencatat bahwa tulisan-tulisan Kristen, Yahudi, dan Islam secara universal menyerukan perhatian bagi para janda, anak yatim, dan orang asing.

Bono dan Tom Yorke (RADIOHEAD) juga pernah terlibat dalam kelompok Jubile 2000 dan Drop The Thing yang mengkampanyekan penghapusan utang dari negara-negara dunia ketiga IMF maupun kelompok negara penghisap seperti; AS, Inggris, Austraslia, Rusia, Kanada, Spanyol, Jepang, dan Italia. Dia juga mengorganisir para musisi seperti Smashing Pumkins, REM, Beastie Boys, Oasis, dan Luciano Pavarotti untuk terlibat dalam gerakan penghapusan anti-utang.

Namun demikian para personil U2 sering merasa kesal dengan kampanye politik yang dilakukan tanpa henti oleh Bono, dan bahkan mendesaknya untuk menghentikan pekerjaan tersebut. Bono memberikan pengakuan bahwa The Edge merasa kesal ketika Bono menemui Presiden Bush dan mengatakan padanya untuk membantu korban AIDS dan kelaparan Afrika. Bono mengungkapkan hal tersebut dalam sebuah wawancara dengan Alastair Cambell dalam Alastair Cambell Interviews Bono di stasiun TV Inggris, Cannel 5. Lantas pada Februari 2006, Bono tercatat diantara 191 orang yang dicalonkan untuk mendapatkan Hadiah Nobel untuk Perdamaian.

Wow…! Dan beliau adalah salah satu musisi favorit saya. Kalau musisi lokal, diantaranya barangkali kita punya Iwan Fals dan Kaka (Slank).

Toni Santoni
Follow me @SatuJoeli

Sumber:
http://www.jurnalnet.com
http://www.kapanlagi.com
http://www.duniamusik.com
“Rebel Music 25 Musisi Pemberontak”

Iklan

2 pemikiran pada “Bono (U2): Musik Untuk Kesejahteraan Warga Dunia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s