Cerpen

Menyusuri Jalan Setapak


Foto ini diambil dari dokumennya Jarum Super

Ajakan mereka berdua membuatku tak ingin berpikir panjang. “Barangkali inilah kesempatan baikku untuk berada di puncak, jangan disia-siakan,” pikirku dalam hati.
***
Sore itu, berangkatlah kami bertiga dengan ‘kepalan tangan’ sang petualang. Kami akan menempuh perjalanan malam lewat jalur Cibeureum (arah depan). Jarak tempuh dari rumah ke kaki gunung sekitar satu jam jalan kaki (tanpa istirahat). Artinya, kami bisa melakukan perjalanan dari kaki gunung menuju puncak selepas maghrib. Dan itu, jalan setapak sudah mulai gelap tentunya.

Selesai berdoa sebentar, kami mulai melangkah memasuki jalan setapak itu — yang kami yakini jalan yang benar menuju puncak.

Hening, lembab, dan gelap melengkapi suasana malam itu. Sesekali suara burung bersahutan menghibur telinga kami. Kemudian, belum sampai setengah jam perjalanan, kami dikagetkan segerombolan monyet bergelantungan tepat di atas kepala. Suara-suara khas mereka seolah memberi isyarat: ‘ada yang datang, kita harus waspada!’

Lalu, setelah sekian lama hening tiba-tiba Bintang buka suara. “Tenang tong sieun, moal nanaon eta mah, cu’ek we, asal urang tong ngaganggu.” Seakan-akan ia menangkap apa yang aku dan Pion khawatirkan. Namun belum ada semenit setelah Bintang mengingatkan, salah seekor monyet melintas tepat di atas kepalanya, dan ekornya nyaris mengenai batang hidungnya. “Anjrit… monyet teh…” Nadanya sedikit membentak, mengumpat monyet itu. Sontak, aku dan Pion cekikikan menahan geli.

Bintang adalah senior kami berdua (atau bisa dibilang kokolot). Usianya lebih tua 3 tahun dari Pion dan setahun lebih tua dariku. Ia sama sekali belum pernah naik gunung, namun keberaniannya menghadapi ‘segala sesuatu’ tak diragukan lagi. Terbukti dengan ketenangannya terhadap monyet-monyet tadi membuat kami lebih merasa aman bersamanya.

Pion melihat jam tangannya sedikit gusar, “ngomong-ngomong urang geus sajam satengah perjalanan, tapi can keneh manggih saung.” Ya, kami baru sadar bahwa jalan setapak yang kami lalui semakin lama semakin mengerucut, buntu. Gawat!

“Wah, rarasaan ieu mah lain jalan nu biasa. Kuduna mah, sekitar sajam perjalannan teh aya saung nu ngahubungkeun jalan satapak jalur Congeang jeung jalur Cibeureum (Gunung Karang). Padahal urang geus sajam satengah. Kumaha ieu?” Cemas Pion, sekaligus merupakan kecemasanku juga […]

***

Bersambung.. đŸ™‚

Follow me, @SatuJoeli

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s